Pengalaman Dokter UNAYA di Pedalaman Asmat

Namanya dr Fajri (35), ia adalah putra asli dari Tanah Rencong, Aceh. Sejak 2013, melalui formasi Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT), ia bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Kabupaten Asmat.

Fajri merupakan dokter umum. Ia adalah lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (UNAYA) Banda Aceh. Awal penempatan tugasnya, Fajri bertugas di Puskesmas Primapun, Distrik Safan, Kabupaten Asmat.

Kata Fajri, bertugas di pedalaman Papua adalah berkah buatnya, sebab ia dapat mempelajari lebih banyak budaya dan karakter masyarakatnya. Bertugas di pedalaman Papua adalah mimpinya sejak dibangku kuliah.

“Ini semua karena panggilan hati. Semua kembali kepada niat kita dalam membantu sesama,” kata Fajri, kepada BumiPapua belum lama ini.

Walau begitu, kenyamanan yang ia dapatkan dalam penugasan di Papua sempat terusik sesaat, kala ada kabar tentang penyanderaan dan pembunuhan karyawan PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) awal Desember 2018 lalu.

“Saya shock mendengar berita itu. Walau Kabupaten Nduga jauh dari tempat saya bertugas di Puskesmas Suru-suru, Kabupaten Asmat,” jelasnya.

Walau begitu, pasca pembantaian karyawan Istaka Karya di Nduga, sejumah dokter yang bertugas di Asmat diperintahkan oleh Dinas Kesehatan setempat untuk mengungsi sementara dan meninggalkan Distrik Suru-suru. Apalagi Kabupaten Nduga berbatasan langsung dengan Asmat dan Yahukimo.

“Kami diminta mencari tempat untuk perlindungan yang lebih aman dan tetap berkoordinasi dengan tokoh agama, adat dan masyarakat mengenai kondisi saat itu. Masyarakat di Suru-suru memaklumi kejadian ini dan akhirnya kami meninggalkan distrik itu,” ucapnya.

Meninggalkan Suru-suru pasti membuat Fajri dan sejumlah tenaga medis terasa berat. Apalagi ada sejumlah ibu di kampung itu yang menanti kelahiran bayinya dan membutuhkan pertolongan medis.
Kurang lebih satu bulan lamanya, Fajri dan tenaga medis lainnya meninggalkan Suru-suru. Awal Januari lalu, Fajri dan sejumlah petugas medis lainnya nekat untuk kembali ke Suru-suru, meskipun dengan perasaan was-was, pasca pembantaian karyawan Istaka Karya.

Syukurlah, perjalanan ke Suru-suru pun berjalan lancar. Hingga malam harinya, belum sempat ia memejamkan matanya, dalam kegelapan malam Puskesmas Suru-suru yang juga berfungsi sebagai rumah tenaga medis didatangi sekelompok warga. Sepintas dirinya langsung berpikir, akan kah ia dan sejumlah tenaga medis bernasib sama dengan pekerja Istaka Karya?

 “Kami ketakutan. Saya pun pasrah dan tetap diam tanpa banyak bicara. Rupanya, kedatangan sekelompok masyarakat itu menanyakan keberadaan dokter dan tenaga medis dan minta pertolongan persalinan untuk seorang ibu,” kata Fajri sambil mengisahkan.
Hati pun langsung plong. Kegelisahan yang dialami Fajri dan tenaga medis lainnya pun sirna. Dengan sigap dirinya langsung menyiapkan peralatan persalinan yang harus dilakukan dalam kegelapan, karena tak ada listrik.
Proses persalinan pun lancar, walau persalinan dilakukan di ruang rawat inap, karena ruang persalinan tak ada penerangan. Suara tangis bayi laki-laki pecah memenuhi seisi ruangan. Bayi dengan berat badan 2.700 gram dengan panjang 49 centi meter terlahir sehat dan diberi nama Januari oleh sang dokter.

“Bayinya sehat dikarenakan sang ibu ikut program Seribu Hari Pertama Kehidupan Manusia yang di programkan Bupati Asmat Elisa Kambu dan Wakil Bupati Thomas Eppe Safanpo. Program ini merupakan program tambahan asupan gizi bagi seorang ibu pada masa kehamilannya,” jelas Fajri.

Walau tugas yang diembannya sangat menantang di pedalaman Papua, namun selama berada di pedalaman Asmat selama 5 tahun, banyak pelajaran berharga yang didapatnya. Dirinya menganggap bekerja dan tinggal di Papua tak ada bedanya dengan kehidupannya di Aceh. “Hidup di Aceh penuh dengan konflik yang berkepanjangan dan hampir mirip dengan Papua,” ujarnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *